UMBUL BUTO KEDUNGAN

Solopos.com, KLATEN — Pemerintah Desa (Pemdes) Kedungan, Kecamatan Pedan, Klaten, berencana menggarap kawasan Umbul Butho menjadi objek wisata. Umbul itu disebut-sebut memiliki nilai sejarah lantaran pernah dimanfaatkan sebagai tempat penampungan air pada zaman kolonial.

Umbul itu belakangan menjadi perbincangan di media sosial (medsos) seperti grup Facebook Info Cegatan Klaten (ICK). Apalagi setelah dikabarkan ada temuan patung berbentuk kepala terkubur lumpur pada Senin (18/9/2017) sore.

Pj. Sekdes Kedungan, Mulyono, ST mengatakan Umbul Butho merupakan satu dari tiga umbul di desanya. Umbul itu merupakan peninggalan zaman kolonial Belanda dan pernah dimanfaatkan untuk irigasi. “Sudah lama tidak terawat jadi kotor,” kata Mulyono, ST saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Selasa (19/9/2017).

Umbul itu berukuran sekitar 6 meter x 6 meter dengan kedalaman saat ini sekitar 3 meter. “Sedimennya sudah tinggi. Sumber airnya masih keluar tetapi debitnya sangat kecil. Saat kemarau seperti ini mengering namun saat hujan penuh,” katanya.

Terkait temuan patung kepala pada Senin sore, Mulyono, ST mengaku belum memastikan langsung temuan tersebut. Dimungkinkan patung itu merupakan bagian dari umbul.

Mulyono, ST  menjelaskan saat ia masih SD hingga SMA di dalam umbul terdapat sejumlah patung. Lantaran sedimen yang kian meninggi, patung-patung itu tertutup. “Sudah sekitar 20 tahun lebih tertutupnya,” kata dia.

Soal cerita di balik nama umbul Butho, Mulyono, ST juga tak tahu pasti. Dia menduga nama umbul itu sesuai dengan patung di dalamnya. “Nama jalannya juga Jalan Buto. Mungkin disesuaikan dengan patung di sana,” kata dia.

Mulyono, ST menuturkan kawasan umbul tersebut rencananya digarap menjadi objek wisata. Rencana tersebut sudah masuk dalam rencana jangka menengah (RPJM) desa.

Hal tersebut dimaksudkan agar umbul bisa dimanfaatkan kembali difungsikan sebagai tempat wisata. “Rencananya sedimennya mau dikeruk. Nanti pengelolaan objek wisata itu oleh BUM desa,” katanya.

Kaur Pemerintahan Desa Kedungan, Ruminto, mengatakan umbul tersebut berada di antara Dukuh Jalinan dan Kedungan. Dari cerita para sesepuh yang ia terima, umbul difungsikan untuk pengamanan ketika gedong lenga atau tempat menampung minyak tak jauh dari lokasi itu terbakar.

“Ceritanya dulu itu di Pedan ada pabrik gula namanya Manisharjo. Di tempat itu ada gedong lenga yang menjadi bagian dari pabrik gula. Tempat penampungan airnya di umbul tersebut,” katanya.

Ia menjelaskan saat masih kecil di dalam umbul terdapat empat patung di setiap sudutnya yang menggambarkan patung hewan. Hanya, ia tak mengetahui persis bentuk patung-patung yang ia sebut dengan nama gambar itu.

“Kalau dari cerita, gambar itu yang membuat orang Pedan,” katanya.

Sejak pabrik ditutup, air umbul dimanfaatkan untuk irigasi. Namun, kini umbul tak bisa dimanfaatkan untuk irigasi lantaran tingginya sedimen.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan